Latest Updates
Showing posts with label BAYAN. Show all posts
Showing posts with label BAYAN. Show all posts

BAYAN PROF. FARAHIM


 


Bayan Ashar
Hari ini Umat Sholat, tetapi ketidak patuhan dan kemaksiatan berjalan juga bersamaan. Parahnya adanya rasa puas terhadap Ibadah dan amal-amal yang mereka lakukan. Mereka merasa aman dengan amal-amal yang mereka perbuat sehingga menimbulkan rasa cukup dalam ibadah mereka. Ini terjadi karena kelemahan Iman, dan inilah kondisi umat saat ini.
Yang terpenting di akhir hidup ini adalah bagaimana kita dapat mati dalam keadaan takut kepada Allah bukannya takut kepada mahluk. Seorang pemuda di India rela mati dibunuh oleh orang-orang hindu karena berani pergi ke mesjid setelah dilarang mereka. Sementara orang Islam yang lain tidak ada yang berani ke mesjid karena takut kepada orang hindu. Si pemuda ini lebih memilih mati dengan membawa rasa takut kepada Allah dibanding hidup tapi takut kepada mahluk dan mati dengan membawa rasa takut kepada selain Allah.
Iman akan datang melalui pengorbanan, dan Iman akan terbentuk melalui usaha atas Iman, seperti dengan berbicara kebesaran Allah, jaulah, taklim, dan sillaturrahmi. Apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, diucapkan oleh mulut, dan difikir dengan akal, ini dapat membentuk atau merubah kondisi Iman kita dalam hati. Jika fungsi ini digunakan untuk meningkatkan, memelihara, dan membentuk Iman dalam hati selama 24 jam, maka Iman ini akan terjaga dan terawat. Tanda-tanda orang yang merawat Imannya adalah dia akan memaksimalkan fasilitas yang Allah beri kepadanya hanya untuk menyenangkan Allah.
Dunia ini dan segala kepastian hukum alamnya dapat berubah-ubah, semata-mata dengan keyakinan yang benar dan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Jika kita mempunyai keyakinan ini seluruh hukum alam yang pasti ini dapat berubah-ubah tergantung kehendak kita. Hukum Alam dapat berubah dengan Qudratullah, sedangkan Qudratullah ini akan datang hanya dengan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Seperti hukum air yang menenggelamkan malah bisa dipakai buat berjalan oleh Sahabat RA. Fungsi api yang membakar malah menyejukkan buat Ibrahim AS. Ini semua dapat terjadi hanya dengan keyakinan yang benar dan keyakinan yang kuat terhadap Allah Ta’ala.
Dengan keyakinan yang benar, maka do’a ini dapat mendatangkan Qudratullah. Orang Islam akan kembali jaya bukan dengan teknologi, ekonomi, politik, kekuasaan, harta benda, atau status sosial, tetapi dengan Keimanan yang dapat mendatangkan Qudratullah. Jika Iman ini sudah sampai ke taraf keimanan para sahabat, nanti Allah yang akan hancurkan musuh-musuh Islam seperti Allah telah hancurkan Firaun dan Namrud. Dan Allah pulalah yang akan beri kejayaan dan kesuksesan seperti Sahabat ketika menguasai 2/3 dunia dengan kekuatan Iman dan Amal mereka.
Islam dakwah bukan dengan pedang, tetapi dengan Akhlaq. Nabi SAW dibenci bukan karena Akhlaqnya tetapi apa yang Nabi SAW dakwahkan. Bahkan karena Akhlaq Nabi SAW, musuhpun menghormati Nabi SAW. Namun jika ada kepentingan Agama menggunakan pedang untuk berdakwah ini karena kondisi yang mengharuskan Islam untuk berperang. Sudah tidak ada jalan lain selain angkat pedang penyelesaiannya.
Dunia ini berubah karena ada orang-orang yang berkorban dengan jiwa dan harta mereka. Seperti seseorang yang hanya berjualan susu secara lokal tetapi karena ada korban untuk cari hubungan keluar negeri, maka bisnis susunya menjadi perdagangan Internasional. Asbab adanya perdagangan Internasional, bahasa lokal menjadi bahasa Internasional, seperti bahasa Inggris. Begitu juga agama jika ada pengorbanan dan usaha untuk agama, maka ini dapat merubah keadaan dunia.
Dakwah itu seperti tanah, Iman itu seperti benih dalam tanah, Taklim itu airnya, Qur’an dan dzikir adalah lingkungan suasananya, Rukun Islam adalah akar pohon, Ilmu itu adalah batang pohon, amal-amal agama adalah ranting-ranting pohon, Akhlaq adalah buahnya, sedangkan rasa manis dari buah adalah keikhlasannya. Amalan Maqomi dan intiqoli (Khuruj Fissabillillah) ini gunanya adalah untuk meningkatkan dan memelihara Iman. Sebagaimana petani memelihara pohon buah dengan datang ke kebunnya. Pulang pergi  dari rumah ke kebun hanya untuk kerja atas kebun, baru kebun akan berkembang. Iman kita akan berkembang jika kita keluar di jalan Allah dan balik buat amal maqomi.
Perbedaan antara mainan dan perkara yang sebenarnya terletak pada takazanya atau kepentingannya. Seperti antara kapal mainan dan kapal yang sebenarnya. Kapal yang sebenarnya itu harus dipenuhi dulu takazanya. Apa takazanya: kapal yang sebenarnya itu memerlukan bensin, landasan udara, tower kontrol, pilot, mekanik pesawat dan karyawan pesawat. Tanpa ini semua, maka akan terjadi masalah atau kapal tidak akan bisa terbang. Kalau kapal mainan itu tidak perlu ada takaza seperti itu. Jadi agar kapal bisa terbang harus dipenuhi dulu takazanya.
Iman seperti itu juga, ada bedanya antara Iman yang sebenarnya dan Iman mainan. Kalau Iman yang sebenarnya, agar bisa digunakan dan dapat diambil manfaatnya, maka harus dipenuhi dulu takazanya. Apa takaza Iman itu :
1.            Keluar di Jalan Allah : Menaikkan Iman
2.            Maqomi                    : Memelihara Iman
3.            Dakwah                     : Membentuk Iman
Inilah perbedaan antara yang sebenarnya (Realitas/Kenyataan) dengan yang mainan (Hanya Khayalan/Tidak Real). Agama ini adalah yang sebenarnya, nyata, maka mempunyai takaza yang harus dipenuhi agar kita dapat menggunakannya dan mengambil manfaatnya. Sedangkan takaza agama ini adalah Ilmu dan Amal. Kita tau ilmunya lalu langsung kita amalkan, baru kita bisa faham manfaatnya.
Hari ini banyak orang ke mesjid untuk minta hidayah setiap habis sholat, namun setelah pulang tidur, takazanya tidak dipenuhi. Agar do’a kita mempunyai kekuatan maka setelah do’a, takazanya harus dipenuhi yaitu usaha atas hidayah. Orang berdo’a agar musuh Islam dihancurkan, tetapi setelah do’a, takaza jihad tidak dipenuhi, dia hanya uring-uringan saja. Apakah dengan ini musuh Islam akan hancur. Cara seperti ini tidak akan merubah keadaan.
Agar kita bisa merasakan kenikmatan dari do’a kita maka asbab-asbabnya juga harus dipenuhi terlebih dahulu dengan keyakinan bahwa Allah tanpa asbab dapat memenuhi hajat kita dengan QudratNya. Penting kita sadari bahwa Allah membuat dunia ini dengan tertib dan ada sunnatullahnya. Tujuannya agar manusia mau berkorban, tidak hanya dengan duduk-duduk saja. Dunia ini membawa ketetapan Allah, hukum-hukum alam yang telah ditentukan Allah, sunnatullah. Namun orang beriman menjalankan hidup ini harus dengan keyakinan bahwa Allah tidak bergantung pada apapun dan tidak terikat pada apapun. Allah dapat melakukan segala sesuatu diluar aturan-aturan yang ada. Allah Mah Kuasa dan kekuasaan Allan tanpa batas. Seperti makan, Allah mamp[u memberi manusia makan tanpa kerja. Tetapi mencari Nafkah atau kerja ini adalah perintah Allah. Kita mencari nafkah ini harus dengan keyakinan bahwa Allah mampu memberi kita nafkah tanpa kerja, hanya saja ini perintah dan ketetapan Allah. Jika dilanggar ketetapan Allah ini akan ada konsekwensi atau akibat. Sebagaimana orang yang jatuh lalu berdarah, ini adalah akibat nya bila terjatuh. Jika orang terjatuh maka akan berdarah dan akan keluar rasa sakit. Jika kita hanya bermodalkan keyakinan tanpa buat usaha untuk memenuhi asbabnya terlebih dahulu, ini seperti seseorang yang do’a meminta anak tetapi tidak mau kawin.
Anbiya AS mereka kekuatannya terletak pada do’a dan usahanya. Apa yang di do’akan oleh Anbiya AS dan lalu apa yang diusahakan mereka yaitu hidayah untuk hati-hati manusia. Ini ketetapan Allah, bahkan Anbiya AS yang do’anya paling ijabah dibanding kita tetapi Allah perintahkan kepada mereka untuk buat usaha atas hidayah. Hidayah tidak akan turun hanya dengan sekedar duduk-duduk saja dengan berdo’a. Penuhi asbab dan takaza dari do’a itu, baru do’a ini mempunyai kekuatan. Lakukan apa yang kita mampu lakukan nanti Allah akan mengerjakan apa yang kita tidak mampu kerjakan.
Untuk memenuhi takaza agama diperlukan asbab-asbab. Asbab inilah yang dijadikan pengorbanan untuk kepentingan Agama. Seorang petani dia akan menanam benih, lalu dia akan melakukan pengairan, pemupukan, tetapi masalah panen ini adalah urusan Allah. Inilah yang dilakukan petani sebelum panen yaitu dengan memenuhi asbab-asbab pertaniannya seperti benih, air, pupuk, dan lain-lain. Hasil dari panen inilah yang digunakan sebagai asbab untuk memenuhi takaza agama. Jerih payah dunia yang dihasilkan lalu digunakan untuk memenuhi takaza agama bukan untuk kepentingan nafsu inilah yang dinamakan pengorbanan.
Pada dasarnya setiap kita melakukan usaha atau kegiatan, maka kita akan mendapatkan 2 hasil :
  1. Benda yang diusahakan
  2. Keyakinan terhadap benda tersebut
Seperti tukang minyak yang diusahakannya adalah membeli minyak untuk di jual. Jadi minyak adalah benda yang diusahakan. Si tukang minyak yakin bahwa minyaknya dapat menyelesaikan masalahnya dan dapat mendatangkan kebahagiaan. Asbab keyakinannya terhadap minyak maka jualan minyak menjadi kerjaannya yang utama. Jika meninggal pekerjaanya akan dilanjutkan oleh keluarganya. Jika menghasilkan maka orang-orang akan mengikutinya. Begitu juga kerja agama ini, jika benar dikerjakan maka hasilnya adalah hidayah dan keyakinan menjadikan usaha ini sebagai maksud hidup. Sehingga ketika kita meninggal keluarga kita akan meneruskannya dan orang lain akan mengikuti kita.

BAYAN PROF. MUHSIN BANGLA WALI MASJID HAZRAT NIZAMMUDDIN

BAYAN PROF. MUHSIN  BANGLA WALI MASJID  HAZRAT NIZAMMUDDIN

Hari ini banyak sekali Agama dari Hindu, Budha, kristen, katolik, protestan, kong hu chu, dan lain-lain. Tetapi agama-agama ini telah terbukti “Ineffective Completely”, Gagal Total, untuk membawa manusia ke jalan kebahagiaan. Lalu kini muncul agama baru yang menyebabkan orang-orang meninggalkan agama-agama tersebut, yaitu Agama Materialis. Agama Materialis ini dibuat oleh kaum materialis dengan alatnya adalah Uang dan azas hidupnya adalah Nafsu.


Untuk Hidup Bahagia di Dunia ini apa yang diperlukan ?” jawabannya, “Uang.”
Ini menurut Keyakinan mereka yang menganut Agama Meterialis ini. Semua Agama mandul menghadapi agama Materialis ini kecuali Islam. Islam mengandalkan Yakin pada kalimat “La Illah Ha Illallah” dalam mencapai kebahagiaan di dunia. Namun banyak muslim yang telah melupakan kalimat ini bahkan tanpa kita sadari ataupun kita sadari kita mengucapkan kalimat ini tetapi pola kehidupan kita sama dengan mereka penganut Agama Materialis. Akibatnya kehidupan di dunia ini sudah seperti Neraka. Kehidupan yang mengekang dan memaksa orang untuk berbuat diluar kapasitasnya sebagai manusia. Bekerja dengan nafsu demi yang namanya uang, tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga tidak ada lagi yang namanya ketulusan, “Purity of Intension”, Keikhlasan. Setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain. Rusaknya Ikhlas ini menyebabkan tidak ada lagi Moral atau Akhlaq yang baik. Jadi Akhlaq inilah yang menjadi korban pertama.

Semua sistem telah dibuat oleh manusia sebaik dan sesempurna mungkin untuk mengatur kehidupan mereka, tetapi masalahnya mereka tidak dapat mendeteksi moral seseorang. Seluruh sistem yang mereka buat menjadi rusak karena moral rusak. Sekarang Hukum banyak yang canggih-canggih, ganjaran bagi para pelanggar berat-berat, dan fasilitas hukum juga sangat maju, tetapi pejabat tetap korup di pemerintahan, polisi tetap korup, pedagang tetap korup, semuanya tetap melanggar karena Moralnya telah rusak. Perbaikan Akhlaq pada zaman Rasullullah SAW terlihat dari orang yang bejad moralnya menjadi orang yang paling mulia akhlaqnya karena Yakin mereka terhadap kalimat “La Illa Ha Illallah”
Tanda-tanda kerusakan umat muslim adalah ketika mereka tidak mempunyai “Objective of Life”,  Tujuan Hidup, sehingga mereka menggunakan dalam kehidupan mereka cara yang sama seperti penganut Materialis. Semua orang berkata yang Islam tawarkan saat ini sangatlah tidak mungkin atau dapat diikuti, itukan buat jaman Nabi. Padahal kalau kita ikuti apa yang Nabi SAW ajarkan dan contohkan maka hidup ini akan menjadi tidak sulit bahkan menjadi seperti Surga Dunia. Nabi tidak punya kebendaan yang indah-indah atau Uang yang banyak disimpan, tetapi setiap pulang ke rumah beliau SAW selalu berkata, “Bayyiti Jannati”, rumahku surgaku. Beda dengan orang-orang saat ini, yang kaya punya rumah besar, harta berlimpah tetapi merasa hidup susah seperti dalam neraka saja kehidupannya. Begitu pula yang miskin susah karena merasa tidak bisa menjadi orang kaya. Sehingga kini yang miskin susah dan yang kayapun susah. Kini asbab agama materialis semua orang tidak ada punya waktu lagi buat keluarga, tamu, kerabat, teman, dan agama. Semuanya hidup terkekang dan terikat. Setiap diajak untuk Islah diri, perbaikan Iman dan Amal, mereka selalu berkata kami tidak punya modal atau kami tidak punya waktu, inikan buat yang pengangguran.
Para Nabi dan Sahabat Nabi SAW berani meninggalkan segalanya karena keimanan mereka. Modalnya satu saja, “Allah bersama saya”, tidak perlu material dan asbab. Seorang yang penakut adalah seseorang yang terikat dengan pekerjaannya karena takut miskin, takut lapar, takut susah, dan lain-lain. Jadi orang-orang yang mau meninggalkan harta dan keluarga demi agama Allah inilah yang dinamakan orang-orang yang pemberani. Orang-orang yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan buat hidupnya serba dalam ketakutan, takut miskin, takut mati, takut sakit, takut dimarahi isteri dan lain-lain. Tetapi jika orang itu takut pada Allah maka Allah akan buat orang itu berani menghadapi hidup dan tidak akan pernah merasa susah. Bagaimana bisa ? mudah saja karena “Allah bersama saya” tidak ada yang perlu ditakutin. Inilah yang namanya keberanian yaitu s eseorang yang berani menjalani dan meyakini amal-amal Agama yang bertentangan dengan asbab-asbab kehidupan ahli materialis. Para Nabi dan Sahabat RA dihina, disiksa, di musuhin, karena apa yang mereka perjuangkan bertentangan dengan keyakinan kaum pada saat itu.
  1. Ketika mereka percaya pada banyak Tuhan, Nabi dan Sahabat mengajak mereka untuk percaya kepada satu Tuhan, yaitu Allah Ta’ala.
  1. Seorang Yahudi bertanya kepada sahabat, “ Bagaimana kalian bisa hidup jika kalian meninggalkan Rezki kalian ?”. Tetapi sahabat membalas, “kami meninggalkan rezki menuju kepada yang memberi Rizki ”.
  1. Musa AS pergi ke Firaun hanya dengan modal tongkat, apa kata Allah, “Jangan takut wahai Musa, Aku bersamamu.” Ketika Musa AS terjebak di antara pasukan Firaun dan Laut, apa kata Musa As, “Jangan takut, Allah bersama saya.”
  1. Abu Bakar RA takut Nabi SAW dibunuh ketika dikejar para orang kafir quraish, tetapi apa kata Nabi SAW, “Jangan Takut Allah bersama Kita.”
Allah Ta’ala adalah lebih kuat dari seluruh masyarakat materialis dan sistem yang mereka buat. Para Nabi dan Sahabat RA tidak punya materi, mereka hanya mempunyai Allah saja yang mereka imani sebagai sumber pertolongan. Tetapi seluruh kekuatan dan sistem yang mereka punya tidak ada yang mampu menahan Kehendak Allah. Semuanya yang menentang, Allah musnahkan. Sebagaimana sistem Namrud tumbang oleh ajaran Ibrahim AS, sistem Firaun tumbang oleh ajaran Musa AS, Sistem Quraish, Romawi dan Persia tumbang oleh ajaran Rasullullah SAW. Mereka yang tidak mengenal Allah maka mereka ini akan menjadi pengikut setia agama materialis. Untuk ini pentingnya Ilmu agar kita dapat mengenal Agama kita dan mengenal Allah.
Untuk dapat menyelamatkan umat ini perlu usaha, dan tidak ada cara lain selain menggunakan cara Nabi memperbaiki umat yaitu dengan Dakwah. Kita perlu mengembalikan kehidupan umat yang sudah sekarat ini. Imam malik berkata, “ Tidak ada cara yang terbaik memperbaiki Umat pada kurun sekarang selain menggunakan cara yang digunakan pada kurun awal.” Yaitu cara Rasullullah SAW memperbaiki kehidupan kaum Quraisy yang rusak, tidak punya adab, pada waktu itu menjadi kaum yang memiliki peradaban dan mulia.
Kini umat jauh dari jalur agama karena tidak adanya gerak. Orang yang tidak bergerak hanyalah orang mati. Maka jika umat ini tidak ada pergerakan, maka umat ini telah mati. Semua orang gerak saat ini tetapi demi kepentingan materi, bukan karena agama. Sehingga kini kebendaan didunia ini menumpuk tetapi moral umat makin rusak.
Jadi cara pertama memperbaiki umat ini adalah dengan jalan Hijrah, pergerakan karena Agama. Modalnya sederhana, apa saja yang kita punya dan bisa kita korbankan, kita korbankan untuk agama.
Seluruh Sistem Kebathilan mempunyai dasar 2 hal :
  1. Berlebih-lebihan ( Mubazhir )
  2. Kesombongan
Sedangkan yang Haq berdasarkan atas 2 hal :
  1. Kesederhanaan
  2. Rendah Hati
Ketika cahaya masuk, maka kegelapan akan hilang, ini sudah menjadi sunnattullah. Maulana Ilyas Rah.A dibilang orang gila oleh para Ulama karena menyuruh orang mewat yang bodoh, jahil, dan miskin untuk pergi dakwah. Tetapi Maulana Ilyas tegar dan terus membuat orang Mewat agar tetap bergerak. Dari berputar-putar sekitar tempat mereka lalu ke kampung mereka, lalu desa-desa, lalu ke kota-kota, akhirnya sampai orang mewat ini pergi keseluruh dunia. Sekarang seluruh orang di dunia datang ke India karena pengorbanan orang mewat.
Kebutuhan manusia itu hanya lima :
  1. Kebutuhan akan Pakaian
  2. Kebutuhan akan Makan dan Minum
  3. Kebutuhan akan Tempat Tinggal
  4. Kebutuhan akan Transportasi
  5. Kebutuhan akan Isteri
Ini adalah 5 kebutuhan yang dikenal agama. Kita harus mampu menekan kebutuhan kita  ke level kesederhanaan dan kerendah hatian hidup. Inilah kehidupan Nabi SAW.
Nabi SAW bersabda mahfumnya, “Setiap umat mempunyai fitnah, dan fitnah umatku adalah Harta.”
“Apa yang di inginkan Umat sekarang ini ?” jawabnya, “Harta”. Hari ini orang bilang “Tanpa uang bagaimana bisa hidup ?”
Jika punya uang baru Islam bisa maju. Dengan Uang umat Islam bisa bangun ini dan itu. Bagaimana sedekah kalau tidak ada uang. Bagaimana bangun mesjid kalau tidak ada uang. Bagaimana mau bayar guru untuk ngajar agama kalau tidak ada uang. Bagaimana mau pergi haji atau keluar di jalan Allah kalau tidak ada uang. Inilah kesalah fahaman terhadap agama. Sekarang yang bisa menyebabkan orang bisa memberi atau bersedekah bukan hartanya tapi Imannya. Yang menyebabkan orang mau berkorban bukan karena dia punya harta tetapi karena imannya. Kini orang punya banyak harta tetapi tidak punya Iman maka tangannya akan tetap menjadi tangan yang dibawah. Orang yang tidak punya harta tetapi ia punya Iman maka ia akan selalu menjadi tangan diatas. Sedekahnya seseorang yang punya banyak harta dan sedekahnya seorang yang miskin harta mempunya perbedaan nilai yang sangat besar disisi Allah. Ini tergantung dari keimanan dan pengorbanan mereka.
Agama tidak akan bisa berjalan dengan harta tetapi dengan kesederhanaan dan ketawadhuan. Suatu ketika Nabi SAW dihina oleh orang kafir karena kemiskinannya. Allah mendengar ini lalu melalui Jibril AS, Allah berfirman kepada Nabi SAW bahwa Allah Ta’ala dapat mengubah gunung Uhud menjadi emas dan ikut kemana saja Nabi SAW pergi kalau Nabi SAW mau. Tetapi Nabi SAW menolak karena ia lebih suka sehari lapar dan sehari kenyang. Ketika lapar ia bisa bersabar, dan ketika kenyan ia bisa memuji Allah. Jadi Nabi SAW lebih memilih amal dibanding harta benda. Kini apa yang nabi SAW tolak, itu yang kita minta dan kita uber-uber.
Allah tidak perlu uang dalam menyelesaikan masalah manusia, Allah dapat melakukan apa saja tanpa pertolongan mahluk. Sahabat hanya dengan sholat 2 raka’at seluruh masalah dapat diselesaikan dengan bantuan Allah. Ini karena Yakin mereka sudah benar. Mereka tidak bergantung kepada selain Allah. Untuk perkara ini penting kita pergi dari rumah ke rumah, desa ke desa, kota ke kota, dari negara ke negara untuk menyampaikan kalimat La Illaha Illallah.

BAYAN PROF. MUHAMMAD KHAN




Bayan Subuh
Allah Ta’ala Maha Kuasa dan Kuasa Allah tanpa batas. Allah yang menjalankan segala sesuatu dengan QudratNya. Allah jalankan Qudratnya dengan 3 cara :
1. Tanpa Asbab :
Penciptaan langit, bumi, bintang-bintang, dan manusia tidak ada contohnya, tidak perlu pakai percobaan-percobaan. Cukup dengan kata : “Kun Faya Kun”, “Terjadilah”. Tidak perlu simulasi atau contoh pembuatan terlebih dahulu, hanya dengan KehendakNya saja, maka terjadilah apa yang di KehendakiNya.
Allah jadikan langit tanpa tiang, sejauh mata memandang. Di langit ini terdapat begitu banyak benda-benda yang namanya planet tetapi tidak ada satupun yang bertabrakan atau keluar dari orbitnya. Ini semua Allah yang pelihara dan Allah yang memberikan komando. Semuanya dibawah aturan Allah dan berjalan sesuai dengan perintah Allah.

Kapan Allah hancurkan dan sampai kapan akan tetap terpelihara, ini semuanya tergantung pada keputusan Allah. Allah tidak berhajat pada mahluk dalam memelihara dan menjaga Alam ini. Allah tidak pernah tertidur dan tidak pernah letih dalam memelihara dan menjaga alam ini. Semua ini hasil karya Allah dan Allahlah yang paling tau kapan harus dihancurkan.
2. Dengan Asbab :
Dari benda, Allah mampu munculkan benda lain. Dari Mahluk muncul mahluk lain. Dari pohon-pohonan muncul buah-buahan. Dunia ini adalah Darrul Asbab. Orang yang tertipu adalah orang yang menyangka asbab dapat memberikan manfaat. Seperti pohon berbuah, bukan pohonnya yang hebat bisa mengeluarkan buah. Tetapi Allah telah memilih pohon itu sebagai asbab keluarnya buah. Begitu juga perkara Rizki, bukannya kantor yang memberikan rizki, tetapi kantor ini hanya asbab Allah salurkan rizki kita.
Jadi asbab ini bukan sebagai tujuan karena dapat memberikan manfaat tetapi hanya ujian atas keyakinan kita. Harta ini adalah asbab, tetapi bukan sebagai tujuan kebahagiaan, hanya merupakan ujian buat kita. Apakah kita bisa mendistribusikan harta ini sesuai dengan yang Allah mau. Asbab-asbab ini semuanya Allah atur untuk menguji keyakinan manusia, kepada siapa mereka bergantung.
3. Berlawanan dengan Asbab :
a. Allah mampu menciptakan manusia tanpa ibu dan bapak seperti Adam AS.
b. Allah mampu melahirkan manusia dari laki-laki seperti lahirnya Hawa A.S dari Adam AS.
c. Allah mampu melahirkan manusia dari ibu yang suci tanpa bantuan suami atau laki-laki seperti Isa AS
d. Allah mampu menghidupkan manusia di ruang hampa udara seperti Yunus AS dalam perut ikan di kedalaman laut selama 40 hari.
e. Allah mampu membuat manusia hidup tanpa makan dan minum seperti 7 pemuda Ashabul Kahfi yang tertidur tanpa makan dan minum selama 309 tahun.
f. Allah mampu merubah api yang panas menjadi sejuk buat Ibrahim AS.
g.Allah mampu membuat air yang menenggelamkan menjadi jembatan buat para Sahabat dibawah komando Saad bin Abi Waqqash RA ketika hendak menyerang Persia.
Ini semua adalah Kekuasaan Allah yang tanpa batas dan berlaku sesukaNya dan sekehendakNya. Tidak ada yang bisa menghalangi Kehendak Allah dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Semuanya mungkin-mungkin saja. Hari ini banyak orang yang tertipu, mereka kira mahluk atau asbab dapat memberikan manfaat. Seperti melihat pantulan matahari yang ada di air, seakan-akan matahari itu ada pada air, padahal matahari itu adanya di langit. Kita tertipu mengira asbab itu dapat memberikan manfaat seperti tertipunya kita ketika mengira matahari ada pada air. Asbab-asbab yang kita lihat ini hanya pantulannya saja, bukan yang sebenarnya. Yang sebenarnya adalah perbuatan dan kekuasaan Allah.
Allah gunakan Asbab untuk menguji keyakinan kita. Seorang bayi lahir dari wanita, seakan-akan bayi ini tercipta dari wanita. Walaupun wanita ini Allah gunakan beberapa saat sebagai asbab terciptanya bayi, namun kita tidak bisa katakan bahwa wanita ini adalah Kholik dan Bayi ini adalah hamba. Mahluk tetap mahluk, selamanya tidak akan pernah jadi Kholik. Dunia ini adalah Darrul Asbab, dan Asbabnya orang beriman ini adalah Amal Agama atau perintah-perintah Allah. Sedangkan musuh-musuh Allah ini asbab kebahagiaannya adalah mahluk atau kebendaan. Kaum-kaum terdahulu yang merasa kebahagiaan ada pada asbab-asbab kebendaan, Allah telah hancurkan bersama dengan asbab-asbabnya.
Maulana Yusuf Rah.A berkata, “Mukmin itu adalah orang-orang yang mempertahankan perintah Allah dimanapun dan dalam keadaan apapun. Bukan orang-orang yang meninggalkan perintah Allah demi mempertahankan kebendaan dan keduniaan. Mukmin itu adalah orang yang mengejar-ngejar perintah Allah bukannya orang yang mengejar-ngejar dunia. Mereka yang meyakini bahwa kebahagiaan ada dalam perintah Allah bukan dalam asbab-asbab dunia, inilah yang namanya mukmin.”
Kita ini adalah orang-orang yang suka meyakini apa yang kita lihat oleh mata. Orang yang beriman adalah orang yang mampu meniadakan apa yang dilihat oleh mata dan hanya membenarkan apa yang dibilang oleh Allah. Seperti kisah ada seorang tua yang sudah udzur masuk ke mesjid melihat tiang mesjid ada 2 padahal cuman 1 tiang. Lalu orang yang sehat matanya bilang tiangnya cuman 1. Orang yang lemah iman ini seperti orang tua yang rabun matanya, mengira kebahagiaan ada pada asbab-asbab / benda-benda. Padahal yang namanya kebahagiaan itu hanya ada pada perintah Allah. Iman lemah maka pandangan Imanpun terhadap dunia akan menjadi rabun.
Seluruh Nabi AS telah Allah kirim untuk membuat usaha yang sama :
1. Merubah keyakinan manusia dari yakin pada asbab menjadi yakin pada amal.
2. Merubah Keyakinan manusia dari yakin pada mahluk menjadi yakin pada Allah.
3. Merubah keyakinan manusia dari yakin pada Dunia menjadi yakin pada akherat.
Yang kita punya kini hanya ujian dari Allah, untuk mengukur keyakinan kita kepada Allah. Dunia ini tempat ujian bagi orang beriman. Ujian ini adalah untuk menaikkan derajat kita. Kita harus yakini bahwa manfaat dan mudharat ini datang dari Allah. Kita harus mampu meniadakan atau mengingkari manfaat yang datang dari Mahluk dan hanya membenarkan janji Allah saja. Mahluk tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat, semuanya datang dari Allah. Selama dalam hati kita belum bisa menafikan atau mengingkari manfaat dari benda-benda atau asbab maka Iman kita tidak akan pernah sempurna. La Illaha Illallah.
Fir’aun dengan seluruh kekuatan dan kekuasaannya berusaha menghalangi Musa AS dari kelahirannya. Tetapi Allah tunjukkan kekuasaannya, Musa AS besar ditangan Firaun sendiri. Melalui istrinya Firaun, Allah telah buat Firaun tidak berkutik untuk membunuh bayi yang ada di depan matanya yang kelak akan menjatuhkannya. Bahkan Allah buat Firaun panik melihat bayi musa yang menangis karena tidak mau minum susu selain dari wanita lain, sehingga Allah hantar ibu Musa AS menyusui anaknya sendiri. Manusia punya makar terhadap Allah, tetapi Allahpun juga punya makar, dan hanya makar Allah yang akan terjadi. Disini Allah telah buat Firaun memelihara musuhnya sendiri. Firaun demi melenyapkan Musa AS, dia telah membunuh 70.000 bayi tiap tahunnya. Firaun berusaha menyelesaikan masalah dengan masalah. Sama seperti manusia saat ini ketika menghadapi masalah malah menyelesaikannya dengan masalah. Tidak ada uang, penyelesaiannya dengan korupsi, menipu, dan mencuri.
Dakwah ini adalah ini untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Seperti orang yang buka toko yang kelihatan toko ini dibuka demi kebaikan orang lain. Padahal toko ini demi kebaikan dia sendiri, demi keuntungan dia sendiri. Begitu juga dengan bisnis-bisnis lainnya seperti pertanian, perdagangan, kedokteran, dan lain-lain. Jadi seperti itulah kerja dakwah yang dilakukan seakan-akan demi kebaikan orang lain, padahal itu demi kebaikan dirinya sendiri. Dia sendiri yang akan mendapatkan maanfaat dari dakwah. Di dunia imannya akan terjaga dan di akherat dia akan menuai hasil dari kerja dakwahnya.
Kita manusia apabila tinggal dalam suatu keadaan, bila dakwah tidak ditegakkan, maka suatu saat kita akan terpengaruh dalam keadaan tersebut. Seperti ketika kita berbicara kebesaran mahluk dan memikirkan kebesaran mahluk secara terus menerus. Tanpa disadari karena sering diulang-ulang dan difikirkan, sehingga kebesaran mahluk akan wujud dalam hati. Ketika kebesaran mahluk wujud dalam hati, kebesaran Allah akan keluar dari hati. Maksud dan Tujuan dakwah ini adalah untuk mewujudkan kebesaran Allah dalam hati, sehingga kita tidak terpengaruh oleh mahluk dan keadaan.
Seperti kisah anak harimau yang hidup semenjak kecil dengan domba. Semenjak kecil anak harimau ini hidup di lingkungan domba, sehingga ketika besar kehidupan domba wujud dalam diri harimau ini. Si Harimau merasa dirinya seekor domba karena dia telah biasa hidup dengan domba. Harimau ini makan seperti domba, tidur seperti domba, duduk seperti domba, bahkan takut dan senangpun seperti domba. Inilah kesalah fahaman yang terjadi pada diri si harimau. Lalu suatu ketika si anak harimau ini bertemu dengan seekor harimau dewasa. Ketika kalangan domba melihat harimau dewasa tersebut, domba-domba itu berlarian kabur ketakutan. Si anak harimau yang sudah besar tadi melihat domba-domba lari maka si anak harimaupun juga lari bersama-sama domba yang lainnya. Lalu setelah ditangkap oleh harimau besar, maka si harimau kecil ini di bawa ke danau. Setelah melihat kemiripan dirinya dan si harimau besar dari pantulan di air, dan setelah di beri daging domba, dan diberi penjelasan tentang apa itu harimau baru si harimau kecil tadi mendapatkan kefahaman. Jadi Harimau kecil ini baru faham bahwa dirinya ini adalah harimau. Kefahaman ini datang setelah di anak harimau ini di taskil menjadi harimau, di ajak gerak ke danau, dan di beri penjelasan (bayan) oleh si harimau besar. Hari ini kehidupan musuh-musuh Allah telah wujud dalam kehidupan orang Islam, tanpa kita sadari kita sudah menjadi seperti mereka.
Sistem pendidikan, ekonomi, cara kerja, cara berpakaian, model pernikahan, dunia entertainment yang dirancang oleh orang kafir ini pada akhirnya hanya akan membuat orang islam yang berfikir dan hidup seperti orang kafir. Inilah yang terjadi pada orang islam hari ini seperti anak harimau yang telah hidup dikalangan domba-domba sehingga kehidupan domba masuk pada anak harimau tadi. Semua kebesaran harimau tadi hilang dikarenakan kehidupan domba yang masuk dalam dirinya. Ummat islam saat ini seperti harimau yang telah kemasukan kehidupan domba yang rendah, yaitu kehidupan yahudi dan nasrani, sehingga kebesarannya ummat ini hilang dengan kehidupan yahudi dan nasrani tersebut. Ini karena kita hidup ditengah-tengah kehidupan mereka, tanpa ada kerja dakwah. Sehingga kita makan, tidur, berpakaian seperti mereka, bahkan kesenangan kita sama seperti yang mereka senangi dan rasa takut kita sama dengan yang mereka takuti. Asbab ini, kini sulit dibedakan mana orang yang beriman dan mana yang bukan.
Musuh-musuh Allah ini juga melakukan dakwah agar kehidupan mereka wujud dalam kehidupan kita. Kini jika dakwah yang Haq tidak ditegakkan, maka dakwah yang bathil akan masuk. Hari ini karena kita telah hanyut dalam kehidupan orang-orang yang tidak beriman sehingga kita tidak kenal siapa diri kita lagi, seperti anak harimau tadi. Dari kehidupan dan pola fikir kita telah berubah, tidak ada bedanya dengan yang tidak punya Iman. Hari ini di pasar ketika adzan dikumandangkan yang tidak kenal Allah tetap sibuk dipasar dan yang kenal Allah juga tetap sibuk dipasar, tidak ada bedanya. Inilah pentingnya kerja Dakwah dilakukan.
Ilmu ini bukanlah pengetahuan saja tetapi juga sebagai pengenal. Beda antara mengetahui dan Mengenal. Orang bisa tau siapa itu presiden Indonesia, tetapi tidak semuanya kenal pada presiden itu. Ilmu itu adalah mengenal siapa Rabb kita, bukan hanya sekedar tahu. Ada mentri lewat kita tidak tahu, ini baru namanya kebodohan. Kebodohan terbesar adalah ketika kita tidak mengenal Rabb kita, tidak kenal siapa itu Allah. Dakwah itu adalah untuk mengenal Allah. Sedangkan seluruh yang Allah mau dan Allah sukai ada pada diri Nabi SAW. Penting kita kenalkan hidup kita dan kita kesankan hidup kita terhadap kehidupan Nabi Muhammad SAW. Wujudkan dan kesankan sunnah dalam kehidupan kita baru agama akan wujud. Dengan dakwah, keyakinan akan terbentuk. Jika kita bicara kebendaan dan mahluk terus menerus, maka kehidupan kita akan bergantung kepada mahluk dan kebendaan. Benda A hasilkan benda B. Benda B lahirkan benda C. Benda C dapat membeli benda D, dan seterusnya. Sehingga makhluk wujud dalam hati. Pembicaraan yang kita lakukan dapat mengubah dan membentuk keyakinan di dalam hati. Kesan yang kita dapat dari pembicaraan kita akan membentuk Iman. Jika kita selalu membicarakan mahluk dan kebendaan, maka hati ini akan condong dan bergantung kepada kebendaan yang kita bicarakan. Jika kita bicarakan dan dakwahkan kebesaran Allah, maka yakin kepada Allah akan terbentuk. Sebagaimana kita dakwahkan benda, maka yakin terhadap benda akan terbentuk.
Nabi Musa AS ketika ke bukit Thur untuk menerima wahyu dari Allah, murid-murid Musa AS tidak buat Dakwah. Sehingga dengan sedikit Dakwah Samiri Laknatullah Alaih, keyakinan umat langsung berubah menjadi penyembah sapi. Padahal ketika itu mereka baru melihat kebesaran Allah. Jika dakwah kepada Allah tidak ada maka dakwah kepada selain Allah akan masuk. Sibukkan diri kita dalam amal, jangan biarkan diri kita menganggur dari amal. Maulana Yusuf Rah.A berkata, “Jika kita lalai dari amal atau ingat kepada Allah, maka pintu-pintu maksiat akan terbuka untuk kita.” Setan selalu menunggu waktu yang kosong dari amal untuk menyerang. Waktu yang kosong dengan amal merupakan peluang buat syetan. Jangan sampai lalai dan lengah dari amal dan mengingat Allah, sibukkan diri kita dalam amal-amal agama. Iman dan Amal ini adalah benteng kita dari serangan setan, sedangkan Dakwah dan Do’a adalah senjata kita melawan setan. Jika Dakwah berhenti maka masalah-masalah akan datang, dan Adzab akan turun menimpa bukan hanya menimpa orang jahat tetapi seluruh manusia baik yang sholeh maupun yang salah. Jika Dakwah tegak maka tombak-tombak kebathilan akan hancur, dan kebaikan akan tersebar. Ketika Nabi SAW meninggal, pengiriman rombongan Khuruj Fissabillillah terhenti, dan Dakwah juga sempat terhenti, maka masalah langsung berdatangan :
1. Nabi-nabi palsu bermunculan
2. Orang-orang banyak yang Murtad
3. Orang-orang mulai tidak mau membayar zakat.
4. Musuh-musuh Islam dalam keadaan siap menyerang.
Ketika itu Khalifah terpilih, Abu Bakar RA, langsung mengambil langkah-langkah cepat :
1. Segera mengirim rombongan khuruj fissabillillah yang tertunda.
2. Berantas nabi-nabi palsu dan orang-orang yang tidak mau bayar zakat
3. Hidupkan Dakwah kembali
Setelah langkah-langkah ini di antisipasi baru masalah selesai. Abu Bakar RA menyelesaikan masalah dengan 2 Prinsip :
1. Prinsip Takwa Saya tidak rela agama / amal berkurang walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher domba hewan korban.
2. Prinsip Tawakkul Mengeluarkan seluruh laki-laki untuk keluar di jalan Allah, padahal para istri nabi tidak ada yang menjaga dari binatang buas dan musuh yang akan menyerang ke Mekkah. Disini Abu Bakar ditempatkan pada dua pilihan antara istri nabi dan perintah Allah. Abu Bakar lebih memilih menjaga perintah Allah. Tawakkal dengan mendahulukan perintah Allah di atas segala-galanya.
Natijah atau hasil dari kebijakan Abu Bakar ini adalah terselesaikannya segala masalah. Nabi Palsu dapat ditumpas, Amal agama meningkat, orang mulai bayar zakat lagi, agama kembali tersebar, orang romawi yang mau menyerang membatalkan penyerangannya karena takut. Hidupkan Dakwah lagi dan keluarkan rombongan di jalan Allah baru masalah akan selesai.
Hari ini orang beriman selalu berkelahi dengan keadaan dan suasana yang bertentangan dengan hati. Tanpa dakwah maka tidak ada pembinaan Iman. Jika tidak ada pembinaan Iman maka suatu saat Iman kita akan rusak dan hancur. Dakwah ini adalah alat untuk bertarung dengan suasana dan keadaan. Bila Dakwah dikerjakan, maka ketika kita dihadapkan pada keadaan dan suasana yang akan kita ingat adalah Allah. Jika dakwah tidak di hidupkan maka ketika keadaan dan suasana datang maka kita akan lalai dari Allah, terkesan pada keadaan, lalu lari kepada mahluk.
Perbanyak dakwah yakin kepada Allah. Maka jika yakin terbentuk setiap ada masalah akan lari kepada Allah. Kini manusia karena yakin belum terbentuk maka jika ada masalah larinya kepada siapa? Jawabnya lari kepada mahluk atau selain Allah. Jika kita tidak bicara tentang Allah , maka kita akan bicara tentang selain Allah, tentang kebathilan, tentang benda dunia, makhluk. Sehingga ini semua wujud dalam diri kita. Manusia selalu meyakini jaminan-jaminan dari benda-benda karena kenal terhadap benda-benda itu. Tetapi kita tidak yakin terhadap jaminan Allah. Mau yakin dan kenal Dakwah. Dakwah benda maka yakin dan kenal alan benda. Dakwah Allah yakin dan kenal Allah. Hanya dengan keyakinan yang benar. Hanya dengan keyakinan ayng benar kita bisa hadapi keadaan dan suasana sahabat bicara tentang yakin kepada Allah sehingga sahabat baru masuk Islam dapat menghalau api / lava balik ke gunung.
Sahabat yakinnya sudah benar, maka ketika ia datang bertemu Raja Persia tidak ada rasa takut dan tidak kesan dengan keadaan. Sahabat tidak menginginkan benda apapun ketika datang menhadap Raja Persia hanya ingin meyampaikan, “ Saya diutus Allah dan NabiNya untuk mengajak kamu kepada Islam”. Inilah keyakinan para sahabat. Penting kita ikuti jejak mereka, dan melatih diri kita untuk dapat menjadi seperti mereka.