Latest Updates
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

FILOSOFI PERMEN DALAM KEHIDUPAN NYATA DIDUNIA



 Kita semuanya pasti tahu bagaimana rasanya permen? ya.. rata-rata rasanya manis. Harga permen juga rata-rata murah. Tapi kalau kita mau mengkalkulasi berapa orang yang bisa layak hidup gara-gara permen?. Oleh karena itu mari kita coba perhatikan kenapa permen yang rasanya begitu-begitu saja, harganya relatif murah, manfaatnyapun tidak begitu kita butuhkan kok bisa memberikan hidup lebih dari seribu orang?. Banyak hal yang bisa kita petik pelajarannya dari permen gula.

1. Kemasannya yang menarik

Sesuatu apapun yang berpenampilan menarik tentu saja akan membuat orang senang atau minimal  ingin melihat/mengetahui sesuatu tersebut. kalaupun manfaatnya/isinya kurang baik namun memang kita semua menyadari bahwa apapun yang membuat kita terkesan yang pertama kalinya adalah penampilanya.

2. Promosi yang luar biasa

Baik tidaknya sesuatu itu memang banyak banyak sudut padangnya, namun ketika kemasan yang baik di umumkan/dipromosikan kepada khalayak ramai maka kesan akan membuat penasan banyak orang dan kepengin mencobanya.
Ada satu cerita satu permen jawa (binteng), dia sebenarnya enak, alamiah (tanpa pengawet), lebih menyehatkan, namun kenapa kita enggak/malu untuk makan permen binteng?. Ya... jawabanya karena binteng tidak dikemas dan di promosikan dengan baik.
   

JANGAN KALAH DENGAN POHON PISANG



Dunia terus berputar, silih berganti tanpa ada yang bisa menghentiknnya. Kalau hari ini kita bisa katakan zaman sekarang, coba perhatikan setelah satu tahun bahkan satu bulan, mungkin kita sudah dikatakan zaman dulu. Ketika kita hidup saat ini suatu saat nanti pasti mati. Kita bisa berkarya luar biasa hari ini, tapi sudahkah kita bisa menyiapkan generasi penganti kita lebih baik dari kita ?. Alkhamdulillah kita mendapatkan hidayah iman dan Islam, sholat istiqomah, zakat, puasa dan sudah hajikan..?, sudahkah kita banyak berfikir dengan anak keturunan kita?. Perhatikan pohon pisang disekitar kita ketika sudah berbuah dan siap dipanen boleh dipastikan sudah ada tunas yang siap menggantikan, bagaimana dengan kita?. Dalam sejarah kehidupan didunia, kita bisa amati ada negara/kelompok/sekolah/pondok dll ada yang bisa terus maju dan berjaya, ada yang mengalami zaman keemasan tapi kemudian mengalami kemuduran bahkan hancur/mati. Ini semua harusnya menjadi bahan pemikiran dan pelajaran bagi kita, mau pilih terus dan eksis atau mundur dan hancur. Pertanyaan yang ada : sudahkah kita menyiapkan anak-anak / generasi penerus kita dengan baik ?, siapakah yang patut kita contoh dalam dalam urusan regenerasi ini ?. Sebagai umat Islam kita patut berbangga telah dikaruniai teladan yang terbaik bagi kita yaitu Nabi Muhammad SAW.


Kiat Nabi Muhammad SAW dalam Mempersiapkan Generasi yang handal :
A. Ketauhidan/Keyakinan yang mendalam
     Iman adalah keyakinan dalam hati yang diikuti ucapan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal/perbuatan. Tidak sempurna iman seseorang yang hanyan percaya saja tanpa diikuti dengan ucapan dan amal. Ketika seseorang mengaku beriman akan tetapi tidak mau melaksankan apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Alloh SWT, perlu dipertanyakan keimanannya.



APA ITU ISLAM ?



Menurut istilah Islam adalah agama yang diturunkan oleh Alloh SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW yang mengimani satu Tuhan (tidak ada yang berhak disembah kecuali Alloh) dan meyakini bahwa nabi Muhammad adalah utusan Alloh, dengan syariat yang diajarkannya.
Sedangkan menurut bahasa Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti ‘Menyelamatkan’ misal teks ‘Assalamu Alaikum’ yang berarti Semoga Keselamatan menyertai kalian semuanya. Islam/Islaman adalah Masdar/Kata benda sebagai bahasa penunjuk dari Fi’il/Kata kerja yaitu ‘Aslama’ = Telah Selamat dan ‘Yuslimu’ = Menyelamatkan.
Dasar/pedoman yang utama dari syariat-syariat agama Islam adalah Al-Qur'an dan Al-Hadist. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist meliputi Akidah, ibadah dan Akhlak.


1. Iqidah
Akidah disebut juga sebagai ketauhidan/keimanan. Hal itu merupakan keimanan dalam hati, diikuti ucapan/ikrar dengan lisan dan diamalkan/dibuktikan dengan anggota badan. Ada enam yang wajib diimani, Iman kepada Alloh, Iman kepada Malaikat Alloh, Iman kepada Kitab-kitab Alloh, Iman kepada Rasul-rasul Alloh, Iman kepada Hari qiyamat/hari akhir serrta Iman kepada qodha dan qodar Alloh.

2. Ibadah
Ibadah merupakan kewajiban yang harus dikerjakan oleh orang yang telah menyatakan dirinya ada keimanan didalam hatinya yang kemudian disebut Islam. Rukun Islam ada lima yaitu : Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitulloh bagi orang yang mampu.

3. Akhlak
Akhlak adalah perwujudan dari orang yang beriman kuat dan ibadah yang benar. Akhlak merupakan nilai-nilai kebaikan yang wajib dimiliki dan dilakukan oleh seorang muslim. Seperti berkewajiban untuk jujur,amanah, adil, sopan, berbaik sangka dll. Atau sifat-sifat keburukan yang harus dihindari, seperti dusta, khianat,iri, dengki dll.


ISLAM ADALAH AGAMA FITRAH



 
Islam adalah agama yang langsung diturunkan oleh Alloh SWT, sehingga ajaran dan tuntunanNya sudah pasti sangat sesuai dengan fitrah manusia. Tak ada satupun yang tidak sesuai dengan kehendak dasar/hati/fitrah manusia. Alloh Sang Maha Pencipta yang menguasai seluruh alam semesta ini, dari yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi semua dalam gengaman kekuasaan Alloh semata. Bahkan sehelai rambut jatuh dari kepala atau satu daun jatuh dari rantingnyapun itu semua dalam keputusan Alloh. Demi Alloh tidak ada kekuatan apapun selain Alloh yang bisa menyamaiNya. Sebagai Dzat yang menguasai seluruh alam semesta secara persis mengetahui kelebihan dan kekurangan semua mahlukNya. Pendek kata Islam merupakan agama sempurna yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW. Islam memiliki karakteristik yang tidak dimiliki agama-agama lainnya. Salah satu karakteristik yang dimiliki oleh agama Islam adalah Insaniah. Menurut ulama besar Yusuf Al Qadhawi, Islam merupakan agama yang diturunkan untuk manusia, karena itu Islam merupakan satu-satunya agama yang cocok dengan fitrah manusia. Pada dasarnya, tidak ada satupun ajaran Islam yang bertentangan dengan jiwa manusia. Seorang ulama besar mesir lainnya, Muhammad Al Ghazali dalam bukunya “Menjadi Muslim Ideal” mengatakan dan menyerukan kepada mereka yang tidak mengenal Islam dan mereka yang sempit dalam memahamiya bahwa Islam adalah agama dien fitrah. Beliau menuturkan lebih lanjut bahwa agama Islam sangat variatif dalam setiap sendi kehidupan manusia yaitu seruan menuju perilaku kehidupan yang lurus dan arah pemikiran yang benar, dan petunjuk-petunjuknya yang tetap berupa kaidah yang bergerak dalam mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan dari kebimbangan, menuju kebahagiaan dunia sampai akherat. Alloh SWT  berfirman :(Q.S. Ar Rum ayat 30)
 
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],

[1168] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.


 Islam adalah ajaran fitrah di mana Nabi Muhammad SAW diutus untuk menjelaskan ajaran kebenaran- Nya dan memperlihatkan tuntunan-Nya, serta mengembalikan manusia kepada jalan yang lurus setelah manusia dikuasai oleh bujuk rayu setan. (Ghazali, 2003 : 14). Sedangkan pengertian fitrah sendiri adalah kejadian asli, ciptan, tabiat (alamiah), dan bukan berarti agama. Islam juga disebut agama fitrah karena agama ini merupakan ciptaan Allah, sebagai agama yang asli diturunkan oleh Allah kepada manusia, dan Dia tidak pernah menurunkan agama lain selain Islam (Kaelany, 2006 : 42)
Semua perintah dan ajaranNya tidak ada yang tak bisa dilakukan oleh manusia, firman Alloh SWT : "Alloh menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Q.S. Al Baqoroh ayat 185).

KETIKA DUNIA MENJADI TUJUAN HIDUP


Hidup ini secara global hanya ada dua pilihan, mau baik atau buruk / mau menuju syurga atau terjerumus ke neraka.
Semua manusia didunia ini sudah bisa dipastikan kepengin meraih kehidupan yang " Bahagia ". Kebahagiaan merupakan idaman semua orang yang melingkupi : tentram, damai, sehat,berkecukupan (sandang, papan, pangan, istri, pekerjaan) dan terpenuhi segala keinginannya. Namun keinginan/cita-cita semua orang tersebut banyak yang kemudian salah dalam membidik atau mencarinya, sehingga bukan bahagia yang dicapai akan tetapi malapetaka yang didapatkan. Kenapa banyak terjadi demikian ?, itu semua memang karena Robbul 'izati Alloh SWT, memang menjadikan manusia yang memiliki dua watak berlainan (akhlakul mutmainnah : kebaikan dan akhlakul madzmumah : kejelekan). Untuk tidak terjerumus kejalan kesesatan manusia membutuhkan perjuangan dengan bisa mengalahkan watak madzmumah. 
Bagaimanakah agar bisa bahagia ?
Kebahagian bukanya berbading lurus dengan harta, tahta dan wanita (dunia), akan tetapi kebahagiaan yang sejati adalah berbanding lurus dengan menyempurnakan agama Islam dengan sempurna seperti Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam dakwah kanjeng Nabi SAW, ada tiga hal yang harus kita tanamkan dalam hati kita dan insyaAlloh kita sampaikan kepada semua saudara-saudara kita :
1. Dari mengagungkan mahluk menuju keagungan Alloh SWT
2. Dari mengagungkan dunia menuju keagungan akherat
3. Dari mengagungkan harta menuju keagungan amal
Tiga hal diatas, jujur sudah banyak hilang dari pola pikir/mindset kita sekarang ini, bahkan sudah banyak yang terbalik. 

 1. Dari mengagungkan mahluk menuju keagungan Alloh SWT

Standar kesuksesan orang saat ini banyak berangapan dengan banyaknya uangnya, rumahnya, kendaraannya, dan kedudukannya. Pada hal  tidak ada jaminan jika telah memiliki harta, benda, pangkat jabatan dll dijamin bahagia. Para 'alim mengatakan " Jika bicara perkara dunia maka yang enak hanyalah memandangnya saja, sedangkan bicara akherat jika dipandang tidak enak namun dilaksanakan nikmat.
Contoh 1 (urusan dunia):
Kebetulan saya pernah silaturahmi ketempat seorang Wakil bupati (yang menurut saya enak hidupnya), saya bertanya ; " Wah jadi wakil bupati enk ya pak ?", jawab ;" Waduh.. tidak seperti yang saya bayangkan dulu mas... nich sudah 4 hari kurang tidur sebab banyak sekali acara. ", dari sekelumit pembicaraan diatas, bisa diambil satu kesimpulan bahwa jadi wakil bupati ternyata banyak tidak enaknya, tapi orang banyak memandang jadi wakil bupati pasti enak.
Contoh 2 (urusan  akherat):
Sholat tahajud dilakukan yang paling afdhol adalah pada sepertiga malam terakhir (pukul; 01.00 s/d 03.30 WIB), mungkin banyak orang yang beranggapan "Wah.. lagi enak-enaknya tidur harus bangun tidur ",  namun bagi orang yang yang sudah terbiasa melakukan sholat tahajud insyaAlloh akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Mudah-mudahan kita dicurahi Rahmat dan Hiadayah Alloh SWT, untuk bisa istiqomah melakukan sunah Nabi SAW tersebut, Aminn.
 Dari kedua contoh diatas mari kita sebagai umat Islam jangan pernah ragu-ragu lagi melaksanakan semua perintah Alloh SWt dan RasulNya, sebab digengaman Allohlah semua yang terjadi dimuka bumi dan alam semesta ini. Tidak kekuatan apapun yang menyamai kekuatan Alloh, kita harus memasukan keAgungan Alloh dalam hati kita dan mengeluarkan seluruh keagungan mahluk.

Tawaduk



TAWADHU’

Tawadhu’ menjadi sifat luhur yang menghiasi perilaku orang-orang luhur. Sayyidina Muhammad yang dikenal sebagai sosok yang sangat agung, tidak pernah meremehkan siapapun, bahkan tatkala ada orang yang memuja-memuja beliau, beliau menanggapi, “saya hanya anak perempuan yang makan roti.”
Bahkan, menurut cerita ketika Sayyidina Muhammad makan menggunakan gaya duduk seperti budak. Kehidupan beliau Saw yang sangat sederhana mencerminkan kualitas tawadhu’ beliau. Beliau tidak pernah membanggakan diri, kecuali memang ada hal yang perlu disampaikan untuk memperkuat keyakinan sahabat tentang kerasulan dan kebenaran misi beliau SAW.
Ada kisah yang menarik tentang Sayyidina Muhammad seperti yang digambarkan dengan indah oleh Annemarie Schemmel. Adalah seorang Yahudi yang dekil, jorok, dan selalu mengotori, berikut meninggalkan kain yang penuh kotoran di dekat tempat tinggal Sayyidina Muhammad. Tingkah itu bertujuan untuk mengejek Nabi yang suci tersebut. Setelah si Yahudi pergi dari tempat itu, tanpa ada kemarahan sedikit pun yang menampak pada wajahnya dan tidak ada beban sedikit pun, beliau membersihkan kain yang penuh kotor itu, berikut tempat yang amat kotor. Respons Nabi Saw yang anggun itu mengilhami orang Yahudi mengucapkan syahadat.


Banyak orang mulia yang saya jumpai selalu menghias dirinya dengan sikap tawadhu’, dia tidak pernah merasakan dirinya memiliki kemuliaan. Karena pada hakikatnya kemuliaan dan keagungan itu hanya milik Allah. Jika orang memandang manusia sebagai zero, justru dia akan dipenuhi yang Maha Tak Terhingga. Hanya ketika orang merasa kosong yang bakal diisi oleh-Nya, dan hanya orang yang merasa bodoh yang justru akan dipancari pencerahan. Dan tanda kemuliaan telah tumbuh-berbuah pada diri seseorang, dia akan selalu bersikap tawadhu’ pada siapapun yang dijumpai.
Saya teringat kisah mengagumkan dari Sayyidina Ali Zainal Abidin. Suatu ketika ada orang yang keluar rumah menuju masjid. Sesampai di masjid, dia langsung shalat, dan berapa saat dia pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, seakan ada jejak ingatan yang kabur bahwa uangnya tertinggal di masjid. Setelah ditengok di masjid tak ada seorang pun yang dijumpai, kecuali ada seorang yang sedang khusyuk dalam shalatnya. Dia pun menunggu orang itu hingga selesai shalat, sembari mengatakan, “sudahlah jangan sok khusyuk, mana uangku?” sergahnya.
Ucapan tersebut memancing sosok mulia yang berada di hadapannya untuk segera menyelesaikan shalatnya. Selesai shalat, orang tersebut menyapa “mana uangku?” katanya lagi. “mari saya ajak ke rumah, akan saya ganti uangmu.” Beliau menyerahkan uang senilai yang katanya hilang tersebut. Buru-buru setelah memeroleh uangnya, dia langsung menuju rumahnya.
Betapa terkejutnya, ketika dia mendapati uangnya masih tersimpan rapi di rumahnya. Maka, buru-buru dia hendak kembali menjumpai orang yang telah menyerahkan uang tersebut, sebelum itu dia menanyai pada orang yang terdekat dengan rumah si dermawan kiranya siapa orang yang telah menyerahkan uang itu, kendati beliau tidak mengambil uang, dia rela menyerahkan uang yang disangkakan padanya.
Tetangga dekat Ali Zainal Abidin menyampaikan, bahwa orang yang telah menyerahkan uang padamu tersebut adalah cicit Sayyidina Muhammad Saw, Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fatimah Az-Zahra binti Sayyidina Muhammad Saw. Betapa bergetarnya orang tersebut tatkala mengetahui bahwa orang yang terkesan tawadhu’ tanpa mau menghakimi atau membela diri adalah cicit Sayyidina Muhammad Saw. Demi mendengar siapa orang yang telah berbuat baik tanpa menghakimi itu, dia langsung bersimpuh di hadapan Sayyidina Ali Zainal Abidin, sembari mengembalikan uang pada cicit Rasulullah Saw yang sudah kadung berada pada dirinya, tetapi kemudian Ali Zainal Abidin menolak dengan halus, “Sudahlah ambil saja uang itu untuk tambahan bagimu.” Keindahan akhlak Sayyidina Ali Zainal Abidin terpatri kuat di hati orang tersebut. Yang membuat orang itu malah menjadi pengikut setia Ali Zainal Abidin.
Jiwa Sayyidina Muhammad Saw yang berhiaskan tawadhu tidak pernah mengurangi kemuliaan  beliau Saw di mata sahabat-sahabatnya, dan juga para pengikut beliau di akhir zaman, bahkan menambah bersinar kecintaan sahabat dan pengikutnya terhadap beliau Saw. Memang, saking mendalam spirit tawadhu’ beliau, maka tidak ada yang bisa menandingi kemuliaan beliau Saw di sisi Allah SWT. Memang hanya orang tawadhu’ yang layak diangkat derajatnya di sisi Allah SWT, adapun kesombongan akan dilemparkan di lembah kehinaan.
Kalau Anda menghiasi diri dengan sikap tawadhu’, insya Allah wajah Anda akan selalu terlihat berseri-seri, tidak pernah sedikit pun mengecilkan atau meremehkan orang lain. Anda akan selalu digerakkan untuk mencari sisi positif yang melekat pada orang lain, tanpa Anda sadari kau selalu melihat keindahan setiap saat. Berbeda jika manusia telah berbalutkan kesombongan, maka dia akan selalu melihat ketidakbecusan dan keburukan terpampang pada dirinya, kecuali dia melihat kebenaran ada pada dirinya. Tak ayal, jika Fir’aun—yang dikenal sebagai sosok yang sangat sombong—menahbis dirinya sebagai tuhan. Seketika dia sombong, maka kesempitan jiwa, penderitaan memasuki ruang batinnya, dan dia tidak pernah diizinkan untuk meraih kebenaran.
Kalau Anda ingin mudah mengakses kebenaran, maka bersikaplah tawadhu’…
Khalili Anwar, Penutur dari alan Cahaya

Diambil dari Tawaduk